Kala Dayango Menjadi Sebuah Tradisi Keagamaan pada Masyarakat Gorontalo

Kala Dayango adalah sebuah tarian tradisi pada keagamaan di masyarakat gorontalo. Tarian yang ada di kala Dayango ini memang terlihat sangat ekstrim. orang -orang yang ada disana akan menari di atas bara api yang masih menyala-nyala dengan cara kaki telanjang. Bahkan ada beberapa dari penari yang nekat memakan bara api yang ada di tarian tersebut. Tetapi ternyata pada zaman dulunya, tari ini yang dinamakan tarian Dayango ini merupakan bentuk wujud rasa syukur dan penghalau bala bahaya yang akan terjadi ke desa mereka.

Tabuhan pada gendang akan memecahkan kesunyian pada malam di Desa Talumelito, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo. Mereka akan melakukan tradisi ini di tengah halaman yang cukup lapang, akan ada tumpukan bara api dari hasil pembakaran tempurung kelapa tampak masih menyala-nyala. Tidak jauh dari tumpukan bara tersebut, akan ada tujuh pria yang akan berpakaian serba hitam yang menari sambil memegang sebuah anyaman janur kuning. Ratusan dari pasang mata yang berkumpul pada areal yang ada di halaman seakan-akan tidak akan beranjak untuk melihat penampilan dari ketujuh pria yang mulai untuk mendekati tumpukan bara api yang masih menyala-nyala. Tidak lama waktu berselang, dari ketujuh pria itu akan langsung berjalan dan langsung menyambar pada tumpukan bara api yang masih menyala-nyala. Ketujuh pria itu tidak menggunakan alas kaki yang mereka gunakan. Dengan kaki yang telajang, para ketujuh pria yang sedang menari itu akan berjalan kesana kemari di atas bara yang masih menyala. Bahkan pada di penghujung atraksi akan ada beberapa dari penari ada yang akan mengunyah bara api. Yang jadi uniknya, usai mereka ini melakoni aksi yang sangat ekstrim itu, para penari itu akan tampak sehat walafiat seperti tidak abis ngapa-ngapain. Tidak ada luka bakar yang dialami oleh ketujuh pria tersebut meskipun mereka ini beberapa kali berjalan di atas bara api yang masih menyala.

Aktrasi Tari Dayango

Atraksi tarian yang diatas bara itu yang dilakoni oleh ketujuh pria itu disebut dengan Tari Dayango. Di kalangan masyarakat Gorontalo pada saat ini, tarian dayango tersebut sudah sangat cukup jarang untuk dilaksanakan. Pada zaman dahulu, Tari Dayango ini akan digelar sebagai bentuk rasa syukur dan juga yang menjadi syukuran, untuk penghalau bala dari kejadian-kejadian yang terjadi di alam, dan juga untuk mengobati orang yang sakit. Semakin minimnya masyarakat yang menggelar Tari Dayango ini akan membuat Pemkab Gorontalo berupaya untuk menghidupkan kembali tradisi keagamaan tersebut. Langkah itu akan di sebagaimana dilaksanakan di Desa Konservasi Budaya Talumelito, yang akan menghadirkan atraksi Tari Dayango kembali.

Ritual pada tarian Dayango ini rencananya juga akan dipromosikan pada setiap adanya event  pariwisata tahunan Festival di Danau Limboto. Pada acara tersebut akan memperkenalkan tarian tarian pada ritual tersebut agar orang mulai mengetahui lagi pada tradisi tersebut dan tidak melupakan tradisi yang berada di sana dan terus melestarikan kegiatan tersebut.

“Agar tradisi dayango ini jauh lebih dikenal maka akan ada atraksi menari di atas api ini akan terus dipromosikan dengan cara akan ada kegiatan yang bertaraf nasional, yaitu pada acara Festival Danau Limboto nanti,” ini yang dikatakan oleh Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo usai ia menghadiri rangkaian penutupan pada acara Tumbilotohe di desa Konservasi Budaya Talumelito Kecamatan Telaga Biru yang akan dirangkaikan dengan persembahan Ritual Dayango.

Ritual Dayango

Ritual Dayango itu sendiri adalah sebuah ritual yang sudah dilakoni oleh masyarakat Gorontalo sejak zaman dulu sebelum masuknya agama Islam ke Indonesia. Dahulu masyarakat akan menggelar dayango untuk berbagai salah satu kegiatan yang mereka jadikan sebuah tradisi, salah satunya itu dipercaya untuk menyembuhkan orang yang sakit dan jika kalau ritual itu dijalankan maka orang yang sakit itu dipercaya keesokannya akan sembuh.

Namun pada saat ini, Dayango ini lebih banyak dijumpai dalam rangka adanya sebuah syukuran atas apa yang terjadi pada bumi. Seperti yang dilakukan orang gorontalo kemarin, Tradisi Dayango ini sengaja dibuat oleh masyarakat sekitar dalam rangka syukuran usai setelah pelaksanaan bulan suci ramadhan atau juga pada tumbilotohe.

“Khusus untuk hari ini akan dilaksanakan tradisi tersebut karena untuk syukuran karena sudah selesai melaksanakan bulan suci ramadhan, dan juga tumbilotohe, tonggolo oppo dan berbagai kegiatan yang ada disini,” ini yang dikatakan oleh Nelson

Sementara itu salah satu seorang pawang sekaligus budayawan yang ada di Desa Talumelito Suharlim Katili menambahkan sesuatu, Secara garis besar, pada ritual ini yang awalnya adalah ritual untuk memanggil roh yang jahat, atau biasa juga disebut sebagai ritual untuk memanggil setan. Pada ritual ini akan ada 3 orang penari atau nisa saja lebih yang akan dilakoni orang yang sudah dewasa ini akan menari-nari dan setelah itu untuk memanggil roh leluhur mereka.

“Pada ritual ini kerap sekali diartikan untuk sebagai tarian pemanggilan roh atau untuk bermain dengan setan, yang memiliki tujuan yaitu untuk memperbaiki suatu kampung dari berbagai macam bala atau juga malapetaka yang terjadi pada desa ini, ritual ini juga dapat dipercaya bisa menyembuhkan penyakit yang diakibatkan oleh bala,” ini yang dijelaskan oleh Suharlim.

Seiring dengan perkembangan zaman hingga sekarang ini, dan mulai masuknya nilai-nilai Agama Islam ke Indonesia, maka budaya pada ritual ini perlahan-lahan mulai hilang karena hal ini dianggap sangat menyimpang pada ajaran Agama Islam. Untuk menjaga agar ritual ini tetap lestari, maka akan dihilangkan beberapa prosesi yang dinilai menuju ke syirik yaitu menghilangkan bagian yang menyembuhkan karena terkena dampak bala itu lalu ada beberapa lagi yang dihilangkan dan sekarang ini ritual nya dianggap sebagai rasa syukur telah menjalani kehidupan yang ada. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan nya stigma yang negatif terhadap ritual yang ada di tarian Dayango sebagai ritual pemanggilan roh jahat.

Makna dari Sebuah Tarian Dayango

“Sebenarnya makna dari tarian Dayango ini sebenarnya adalah untuk mengucapkan banyak banyak rasa syukur kepada Sang Pencipta yang maha esa. Untuk itu pada kali ini ritual itu digelar sebagai wujud rasa berterima kasih dan juga rasa syukur karena telah menunaikan ibadah puasa bulan Ramadhan dan juga Idul Fitri,” jelas kata Suharlim.

Hal ini juga, yang dikatakan oleh Suharlim, telah disosialisasikan pada masyarakat dan melalui pada jalur pendidikan yang formal yang ada di Kabupaten Gorontalo. Pada kegiatan tarian dayango ini akan diawali dengan ritual makan bara api dan akan dilanjutkan ke ritual dayango yang menari-nari diatas api dengan memiliki sebuah tujuan untuk mematikan bara api atau Memati Tulu.

Ritual yang dilakukan oleh warga setempat ini dipadati masyarakat tersebut juga turut dihadiri pemerhati budaya dari kota Jakarta juga yaitu orang Gorontalo yang sudah lama berada di Jakarta yang dipimpin oleh Carolina Kaluku. Turut hadir pula pada tradisi ini, Ketua dari Tim Penggerak PKK Kabupaten Gorontalo Fory Naway, lalu ada juga Pimpinan OPD, Camat dari telaga Biru Syaiful Hippy, dan juga para kades se telaga biru serta undangan lainnya dapat menghadiri acara tradisi tersebut.